Selasa, 27 September 2016

Cerita Pendek dari Teks Cerita Sejarah Bandung Lautan Api

TAK SEPERTI YANG KU PIKIRKAN
Oleh Annike Setiyani

            Kota Bandung, kota kelahiranku, kota yang menurutku indah sebelum ada Penjajah di Negeri ini. Banyak hal yang tidak aku inginkan terjadi setelah kedatangannya kemari. Aku seorang remaja 17 tahun. Perempuan yang cantik menurut ibuku. Berambut lurus, berkulit putih. Zaman ini tidak ada sekolah, hanya orang kaya dan bangsawan Jepang saja yang bisa menikmati indahnya bersekolah. Kebanyakan anak lelaki biasanya bersekolah dan mengikuti wajib militer.
            Aku memiliki teman bernama Tegar seumuran denganku hanya saja dia lelaki. Pintar berbahasa Jepang dan cakep pula wajahnya, menurutku. Hari ini 1 Maret 1946 waktu dimana aku berjalan ke pasar untuk berbelanja baju bersamanya. Dan aku memulai percakapan agar tidak merasa bosan
“Menurutmu Gar, aku beli baju warna apa?” aku memulai percakapan dengan santai.
            “Baju putih polos saja” kata Tegar
            “Apa baju putih itu bagus?” kataku
            “Menurutku bagus dan sesuai dengan warna kulitmu.”
Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, lumayan jauh jika dari rumahku. Aku melihat-lihat sekitar jalan yang aku lalui. Banyak orang melakukan aktivitas, seperti berkebun dan bertani, juga ada banyak markas Jepang di alun-alun.

*****
Aneh. Pagi ini begitu sepi. Kota yang benar-benar sepi. Apalagi semenjak Tegar berpindah kota, kota yang sangat jauh yang tak mungkin aku datangi. Aku memandang kanan dan kiriku tampak kosong, hanya beberapa tentara Indonesia dan penduduk yang terlantar seperti pengemis. Bulan ini bulan Maret, yang tepatnya tanggal 23 Maret 1946 aku ingat tanggal hari ini, 18 hari setelah Tegar pergi. Pagi ini sepi penduduk sibuk didalam rumah masing-masing. Aku melihat seorang tentara Indonesia yang sedang berbicara pada seorang kakek, rupanya kakek itu bertanya apa yang sebenarnya terjadi di hari ini, yang aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada hari ini.
            Tak seperti biasanya, hari ini ada begitu banyak tentara Indonesia yang berjaga, sedangkan tentara Jepang tidak terlihat berkeliaran. Aku berfikir sepertinya mereka sudah pergi, tapi entahlah aku tak yakin soal hal itu. Aku berjalan di sekitar rumah, melihat para orang tua dan jarang anak-anak sedang sibuk sendiri menyiapkan sesuatu yang aku tak mengerti, dan aku menghampiri tentara Indonesia yang sedang berjaga-jaga yang tadi ku lihat sedang berbicara pada kakek.
“Bapak, kenapa kota ini sepi sekali? Ada sesuatu hal yang terjadi?” Tanyaku heran menatap tentara Indonesia yang gagah itu.
“Hari ini, dalam waktu 7 jam kedepan orang tua sedang sibuk untuk mempersiap kan Bumi Hangus” kata tentara Indonesia itu sambil tetap berjaga-jaga.
            “Bumi Hangus? Apaitu?” tanyaku
Tentara itu tidak menjawab pertanyaan terakhirku, aku pulang dengan keheranan yang aku pendam tetang apa itu Bumi Hangus.
            Kota ini masih terlalu sepi selama berjam-jam tak ada hal yang ku lakukan, ibuku berbicara kepadaku, tapi entah apa yang ibuku bicarakan aku tak tahu maksudnya. Aku mendengarkan radio tua, radio pemberian ayahku yang sudah tak jelas suranya, tiba-tiba terdengar “Ultimatum Tentara Republik Indonesia, meninggalkan kota dan rakyat membumi hanguskan rumah dan barang yang dimilikinya sendiri serta markas besar tentara Jepang”, aku jadi teringat dengan apa yang tentara tadi katakan kepadaku.
            “Apa? Bumi Hangus?” kataku kaget mendengar siaran radio tadi. Aku berfikir bahwa bumi akan hangus karena Jepang, tapi tiba-tiba ibuku berkata
            “Iya nak, Bumi Hangus, kota Bandung yang dibakar besar-besaran” kata ibuku
“Tapi kenapa harus begini? Apa Bumi ini akan hangus semuanya? Apa kita akan mati bersama-sama bu?” kataku kaget
Tidak nak, hanya kota Bandung yang di hanguskan. Musuh memanfaatkan kota ini nak, lihat banyak orang yang menderita, dan banyak pula gedung-gedung yang dipakai pihak musuh”
Tiba-tiba terdengar suara truk yang begitu kencang seakan bom yang meledak, tetapi hanya sebentar saja. Suara hentakan kaki yang kurasa itu adalah suara hentakan banyak orang yang sedang berlari.
            Tok..tok.. terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah, aku membuka pintu dan ternyata seorang tentara Indonesia yang gagah dan tinggi berdiri di depan pintu. Aku menatap kebalik tentara itu, aku merasa bahwa kota ini menjadi ramai dipenuhi banyak truk dan tentara di jalan-jalan. Tentara itu berkata “Cepat keluar! Semua orang yang berada didalam rumah, cepat keluar!”. Ibuku berlari dan membawaku keluar mengikuti tentara tadi. Aku dan ibuku serta banyak orang yang lain menaiki truk. Terdengar orang berteriak “kota ini akan hangus, kota ini akan hangus”.
            Semua orang dinaikan kedalam truk, rumah-rumah kosong tanpa ada yang menempatinya. Aku melihat bagaimana tentara membakar rumah kami semua, terdengar suara ledakan dan teriakan seorang bayi. Truk ini berjalan kearah selatan bersama para pejuang kemerdekaan lainnya, mengungsi keluar dari kota Bandung ini. Disetiap jalan aku melihat api yang sangat besar menghanguskan kota ini.
            Aku teringat Tegar, apa dia tahu akan terjadi hal ini? mengapa dia tak memberi tahuku, mengapa dia pergi hanya bersama keluarganya saja. Apa ini! ini tidak seperti yang aku pikirkan. Aku melihat banyak markas tentara Jepang terbakar dan para tentara yang sedang kebingungan melihat apa yang sedang terjadi. Aku mendengar banyak suara tangisan, “Inilah Bumi Hangus” kataku mengerti. Kota Bandung yang terbakar habis.