TAK SEPERTI YANG KU PIKIRKAN
Oleh Annike Setiyani
Kota Bandung,
kota kelahiranku, kota yang menurutku indah sebelum ada Penjajah di Negeri ini.
Banyak hal yang tidak aku inginkan terjadi setelah kedatangannya kemari. Aku
seorang remaja 17 tahun. Perempuan yang cantik menurut ibuku. Berambut lurus,
berkulit putih. Zaman ini tidak ada sekolah, hanya orang kaya dan
bangsawan Jepang
saja yang bisa menikmati indahnya bersekolah. Kebanyakan anak lelaki biasanya bersekolah dan mengikuti wajib militer.
Aku memiliki teman bernama Tegar
seumuran denganku hanya saja dia lelaki. Pintar berbahasa Jepang dan cakep pula wajahnya, menurutku. Hari ini 1 Maret
1946 waktu dimana aku berjalan ke pasar untuk berbelanja baju bersamanya. Dan
aku memulai percakapan agar tidak
merasa bosan
“Menurutmu Gar,
aku beli baju warna
apa?” aku memulai percakapan dengan santai.
“Baju putih polos saja” kata Tegar
“Apa baju putih itu bagus?” kataku
“Menurutku bagus dan sesuai dengan
warna kulitmu.”
Kami melanjutkan
perjalanan dengan berjalan kaki, lumayan jauh jika dari rumahku. Aku
melihat-lihat sekitar jalan yang aku lalui. Banyak orang melakukan aktivitas,
seperti berkebun dan bertani, juga ada banyak markas Jepang di alun-alun.
*****
Aneh.
Pagi ini begitu sepi. Kota yang benar-benar sepi. Apalagi semenjak Tegar berpindah kota, kota yang sangat
jauh yang tak mungkin aku datangi. Aku memandang kanan dan
kiriku tampak kosong, hanya beberapa tentara Indonesia dan penduduk yang
terlantar seperti pengemis. Bulan ini bulan Maret, yang tepatnya tanggal 23
Maret 1946 aku ingat tanggal hari ini, 18 hari setelah Tegar pergi. Pagi ini sepi penduduk
sibuk didalam rumah masing-masing. Aku melihat seorang tentara Indonesia yang
sedang berbicara pada seorang kakek, rupanya kakek itu bertanya apa yang
sebenarnya terjadi di hari ini, yang aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada hari
ini.
Tak seperti
biasanya, hari ini ada begitu banyak tentara Indonesia yang berjaga, sedangkan tentara Jepang tidak terlihat berkeliaran. Aku berfikir sepertinya
mereka sudah pergi, tapi entahlah aku tak yakin soal hal itu. Aku
berjalan di sekitar rumah, melihat para orang tua dan jarang anak-anak sedang sibuk
sendiri menyiapkan sesuatu
yang aku tak mengerti, dan aku menghampiri tentara Indonesia yang sedang berjaga-jaga
yang tadi ku lihat sedang berbicara pada kakek.
“Bapak, kenapa kota ini
sepi sekali? Ada sesuatu hal yang terjadi?” Tanyaku heran menatap tentara Indonesia
yang gagah itu.
“Hari ini, dalam waktu
7 jam kedepan orang tua sedang sibuk untuk mempersiap kan Bumi Hangus” kata
tentara Indonesia itu sambil tetap berjaga-jaga.
“Bumi Hangus? Apaitu?” tanyaku
Tentara itu tidak menjawab
pertanyaan terakhirku, aku pulang dengan keheranan yang aku pendam tetang apa itu Bumi Hangus.
Kota ini masih terlalu sepi selama berjam-jam tak ada hal yang ku lakukan,
ibuku berbicara kepadaku, tapi entah apa yang ibuku bicarakan aku tak tahu maksudnya.
Aku mendengarkan radio tua,
radio pemberian ayahku yang sudah tak
jelas suranya, tiba-tiba terdengar “Ultimatum Tentara Republik Indonesia,
meninggalkan kota dan rakyat membumi hanguskan rumah dan barang yang
dimilikinya sendiri serta markas
besar tentara Jepang”, aku jadi teringat dengan apa yang tentara tadi
katakan kepadaku.
“Apa? Bumi Hangus?” kataku kaget mendengar siaran radio
tadi. Aku berfikir bahwa bumi
akan hangus karena Jepang, tapi tiba-tiba ibuku berkata
“Iya nak, Bumi Hangus, kota Bandung yang dibakar besar-besaran”
kata ibuku
“Tapi kenapa harus begini? Apa Bumi ini akan hangus semuanya? Apa kita akan mati bersama-sama bu?” kataku kaget
“Tidak nak, hanya kota Bandung yang di hanguskan. Musuh
memanfaatkan kota ini nak, lihat banyak orang yang menderita, dan banyak pula gedung-gedung
yang dipakai pihak musuh”
Tiba-tiba terdengar suara
truk yang begitu kencang seakan bom yang meledak, tetapi hanya sebentar saja.
Suara hentakan kaki yang kurasa itu adalah suara hentakan banyak orang yang
sedang berlari.
Tok..tok.. terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah,
aku membuka pintu dan ternyata seorang tentara Indonesia yang gagah dan tinggi berdiri
di depan pintu. Aku menatap kebalik tentara itu, aku merasa bahwa kota ini menjadi
ramai dipenuhi banyak truk dan tentara di jalan-jalan. Tentara itu berkata
“Cepat keluar! Semua orang yang berada didalam rumah, cepat keluar!”. Ibuku berlari
dan membawaku keluar mengikuti tentara tadi. Aku dan ibuku serta banyak orang
yang lain menaiki truk. Terdengar orang berteriak “kota ini akan hangus, kota ini
akan hangus”.
Semua orang dinaikan kedalam truk,
rumah-rumah kosong tanpa ada yang menempatinya. Aku melihat bagaimana tentara membakar
rumah kami semua, terdengar suara ledakan dan teriakan seorang bayi. Truk ini berjalan
kearah selatan bersama para pejuang kemerdekaan lainnya, mengungsi keluar dari kota
Bandung ini. Disetiap jalan aku melihat api yang sangat besar menghanguskan kota
ini.
Aku teringat
Tegar, apa dia tahu akan terjadi hal ini? mengapa dia tak memberi tahuku,
mengapa dia pergi hanya bersama keluarganya saja. Apa ini! ini tidak seperti
yang aku pikirkan. Aku melihat banyak markas tentara Jepang
terbakar dan para tentara yang sedang kebingungan melihat apa yang sedang terjadi.
Aku mendengar banyak suara tangisan, “Inilah Bumi Hangus” kataku mengerti. Kota
Bandung yang terbakar habis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar